Planet tanpa bintang dapat ditemukan dengan teknik lensa gravitasi


Science | 2 October 2020

lanet jahat bermassa Bumi ditemukan mengambang bebas di Bima Sakti tanpa bintang

Jika tata surya adalah sebuah keluarga ada matahari dan planet.
Tetapi ada beberapa planet meninggalkan rumah lebih awal, walau tidak tidak dapat ditentukan apakah mereka sengaja pergi atau dipaksa pergi dari bintang induknya.

Planet yang lepas dari gravitasi bintang, akan menjadi planet yatim.

Ketika planet ditakdirkan untuk melayang melalui ruang antarbintang selamanya, maka tidak terikat pada bintang mana pun. Atau planet yatim tersebut akan pergi bebas.

Astronom menyebut planet seperti itu sebagai planet jahat.
Bila ditemukan keberadaannya maka semakin baik.

Sebuah tim peneliti menemukan sebuah planet seukuran Bumi atau Mars.
Karena planet yatim tersebut tidak dapat terlihat seperti pencarian planet di sekitar bintang lain.

2 organisasi melakukan pencarian planet tanpa bintang. Dari 2 tim Optical Gravitational Lensing Experiment (OGLE) dengan Korean Microlensing Telescope Network (KMTN)

Kedua tim telah mengumumkan menemukan planet tanpa bintang dengan massa rendah atau ukuran kecil.
Walau masih belum dihitung berapa jarak planet tersebut ke Bumi.



Planet tanpa bintang

Tim mengatakan mengunakan lensa mikro dapat efektif menemukan planet bermassa rendah seukuran bumi yang mengambang bebas.

Sekitar 30 penlis pada daftar penemuan tersebut dan dipimpin penulis utama Przemek Mroz dari pascadoktoral bidang astronomi Caltech.

Animasi menunjukkan bagaimana pelensaan mikro gravitasi dapat mengungkap sebuah dunia.
Ketika Rogue planet yang tak terlihat lewat di depan bintang yang lebih jauh dari sudut pandang kita, maka akan terlihat perubahan cahaya dari bintang yang diamati akan  membelok saat melewati ruang-waktu yang melengkung di sekitar planet yatium.

Planet seperti ini memberikan efek kaca pembesar kosmik, memperkuat kecerahan bintang di belakangnya.



Para astronom berpikir ketika masa-masa awal tata surya, beberapa planet bermassa rendah akan terlontar dari kekuatan gravitasi bintang.

Karena proses di awal pembentukan tata sury menjadi pembentukan yang kacau.
Ada interaksi gravitasi antar bintang dan semua planet. Kadang dapat melontarkan sebuah planet ke ruang angkasa untuk menjaga planet lain.

Biasanya ukuran planet yang terlempar memiliki massa 0,3 sampai 1x ukuran Bumi kata penulis.

Untuk menemukan planet seperti ini, dimana semua yang diamati adalah kegelapan. Perlu pendekatan inovatif yaitu lensa gravitasi.

Cahaya bintang membantu melihat perubahan cahaya bintang, ketika sebuah benda antara bintang yang di amati dari Bumi melintas ditengahnya. Maka benda tersebut diperkirakan sebuah planet, dan cahaya dari bintang seakan diperbesar oleh gravitasi planet yatim tersebut.

Kebalikannya penemuan tidak terduga, ketika tim astronom menemukan sebuah galaksi yang sangat jauh. Kadang dapat muncul ketika
Ketika peneliti mengamati sebuah galaksi, dapat muncul galaksi lain di belakang dengan pembesaran kosmik. Hanya saja pembesaran tersebut diakibatkan gravitasi sebuah lubang hitam.

Untuk menemukan Rogue planet yang kecil. Peneliti dapat melihat perubahan yang sangat kecil antara 0,1uas, dan skala waktunya sangat pendek sekitar 0,1 hari.
Terlihat mudah dilihat dengan teori tersebut, tapi waktunya sangat pendek untuk pengamatan di bidang astronomi.



Menemukan planet sebagai dunia lain sudah cukup banyak ditemukan, atau dinamai Exoplanet yang artinya planet yang mengorbit ke sebuah bintang induknya.
Ribuan planet sudah ditemukan dengan teknik transit atau teknik lainnya.

Dengan model lensa gravitasi, peneliti dapat mengunakan teknik baru.
Lalu berapa banyak planet berbahaya seperti Rogue planet tersebut.

Mungkin jumlahnya miliaran atau bahkan triliunan planet yang mengambang bebas di galaksi kita. Tentu saja itu sebuah teori,

Planet OGLE-2016-BLG-1928
Ditemukan ketika membentuk lensa gravitasi dalam waktu 41,5 menit. Dan peneliti tidak dapat mengumpulkan data lain setelah planet tersebut melintas.

Sampai Oktober 2020, baru 4 planet yang telah terkonfirmasi. Dan rata rata juga membutuhkan skala mikro dengan waktu singkat ketika ditemukan.

Teknik lensa gravitasi hanya mampu
Para peneliti menghadapi sejumlah kesulitan tidak hanya dalam mendeteksi peristiwa ini, tetapi juga dalam menentukan bahwa itu memang sebuah planet.

Gambar dari penelitian ini menunjukkan bintang yang berperan sebagai sumber cahaya ketika terjadi peristiwa pelensaan mikro.
Titik merah menandai bintang raksasa merah di tonjolan galaksi.
Titik biru menunjukkan bintang deret utama di piringan galaksi.
Data Gaia menunjukkan bahwa bintang raksasa merah di tonjolan galaksi.

Data planet tanpa bintang

Planet tanpa bintang tidak memiliki potensi untuk kehidupan.
Jadi bukan hal menarik untuk dipelajari lebih lanjut seperti pencarian planet ekstrasurya / exoplanet.

Bidang yang menarik dari Rogue planet untuk mempelajari bagaimana sebuah tata surya terbentuk. Dan membuat dampak dengan planet yang keluar dari orbit tata suryanya sendiri.

Dimasa mendatang akan dikirim sebuah teleskop ruang angkasa, yang diberi nama Nancy Grace Roman Space Telescope.
Tugasnya utama untuk mencari Rogue planet.
Mencari data Dark Matter
Atau beberapa tugas lain seperti mengamati spektrum atmofer sebuah planet.

Berita terkait
Rogue Planet Phys.org
2 bintang disebut bintang Apep diteliti sejak 2018. Keduanya saling mengorbit dan saling menarik materi bintang satu sama lain. Walau kedua bintang memiliki jarak cukup jauh, mencapai lebar tata surya kita. Kedua satu hari akan bertabrakan dan membentuk ledakan sinar Gamma.

Teleskop Karl G. Jansky, Very Large Array (VLA) dan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) mempelajari ratusan bintang muda yang baru lahir dan terlihat dikelilingi cincin debu dan gas. Di tengah gambar yang di pelajari sebenarnya cikal bakal dari ratusan tata suya baru. Bintang baru saja lahir atau bayi bintang, dan terlihat di masa mendatang akan muncul planet



Misi Kepler telah berakhir, ditemukan banyak planet dan disebut Super Earth. Dari semua yang ditemukan apakah ada satu planet yang tepat untuk kehidupan, khususnya untuk manusia. Peneliti mengatakan tidak. Ukuran planet yang berbeda dari Bumi akan berbeda. Apa saja  yang dimaksud berbeda.

Planet TOI 1338b ditemukan seorang remaja yang kebetulan baru magang 3 hari di Nasa. Tata surya TOI 1338 memang unik dengan bintang biner. Bintang besar ada ditengah, di dampingi bintang lebih kecil TOI 1338B yang mengelilingi bintang induk. Di belakangnya ada planet yang ditemukan mengorbit di kedua bintang dan disebut planet TOI 1338b.

Sebuah tata surya Planet  Planet  GJ 3512 ditemukan sebuah planet gas raksas. Teorinya planet tersebut seharusnya tidak ada atau tidak terbentuk disana. Karena tata surya Planet  GJ 3512 hanya sebuah bintang ukuran kecil Katai Merah. Teori umum, bintang ukuran kecil hanya melahirkan planet berbatu seukuran bumi dan berada dekat ke bintang induk.

Planet yang disebutkan dalam berita ini dinami HD 21749b, dan ditemukan oleh misi TESS (Transiting Exoplanets Survey Satellite) NASA sebagai perangkat terbaru. Yang membuatnya menarik dari planet HD 21749b adalah beberapa kombinasi unik. Salah satu dari mereka saja tidak akan menjadi masalah besar, tetapi kombinasi ini membuat planet ini cukup signifikan. :

Disebut bintang katai merah atau Red Dwarf, lebih kecil dari ukuran matahari. Tidak terlalu panas, dan banyak yang memperkirakan bintang lebih redup nyaman untuk kehidupan. Apakah kita mau tinggal di bintang dengan warna merah atau bintang lebih besar berwarna kuning. Jawabannya relatif, dari posisi dan kapan mahluk hidup mulai berevolusi



Planet Wolf 503b diketahui sebagai Exoplanet. Berada pada jarak 145 tahun cahaya dari Bumi. Ditemukan pada tahun 2018. Planet Wolf 503b lebih mudah diteliti karena data dari planet dapat terlihat ketika melewati bintang induknya. Sejauh ini tipe planet Wolf 503b belum ditemukan memiliki bentuk dan posisi yang sama di galaksi kita.




No popular articles found.