Planet Mars longsor apa penyebabnya karena disana tidak ada air sungai dan hujan


Science | 4 February 2021

Selama berabad-abad setelah ilmuwan Galileo melakukan pengamatan terhadap Mars tahun 1610, planet tampak di mata Bumi kita sebagai planet yang tenang, berdebu, dan akhirnya mati.

Namun 50 tahun terakhir, para ilmuwan telah mengirim beberapa pesawat ruang angkasa untuk mengamati Planet Merah dari dekat, mengungkapkan Mars adalah planet yang sangat aktif, didera aktivitas geologi terus menerus dan dibelah dengan kanal bawah yang dalam.

Mars Nili Fossae

Peneliti mencari jawaban, mengapa planet dapat bergeser atau berubah seperti terjadi longsor yang sangat dalam.
Walau disebutkan tidak ada aliran air, sungai, bahkan tidak ada awan seperti Bumi.
Salah satu jawabannya dari tim peneliti yang melihat data di Bumi memiliki kemiripan dengan Mars.

Salah kemiripan dari bukti kegiatan ini adalah lanskap Mars teratur mengalami bencana alam yang mirip seperti meratakan permukaan jalan kota dan memblokir jalan ketika terjadi tanah longsor di Bumi.

Aktivitas geologi juga terjadi di Mars, tetapi ilmuwan belum tahu apa tepatnya.

Studi baru mungkin telah mengungkap alasan mengapa aktivitas mirip Bumi ini juga terjadi di Mars dan bersembunyi di bawah permukaan planet. Penemuan ini memiliki implikasi besar bagi misi manusia di masa depan untuk menjelajahi Mars. Karena situasi medan permukaan harus diketahui kestabilan, dan astronot dapat aman berada di Mars.

Studi tersebut dipublikasikan Rabu di jurnal Science Advances.
Data September 2018, pesawat ruang angkasa Mars Reconnoissance Orbiter NASA melihat sekilas dari sisi atas.
Apa yang tampak seperti tanah longsor baru dari area di sebuah kawah dekat wilayah yang dinamai Nili Fossae.



Mars Nili Fossae

Tanah longsor terbentuk dari batuan dan tanah dalam dalam jumlah besar yang bergerak ke bawah dengan kecepatan hingga 360 kilometer per jam, dan meluas hingga puluhan kilometer.

Namun, para ilmuwan tidak yakin apa pemicu tanah longsor besar tersebut.

Janice Bishop, ilmuwan peneliti senior di SETI Institute dan penulis utama di balik studi baru ini, sedang mempelajari proses kimia yang tidak biasa yang terjadi di bawah es Antartika,
Dia melihat kemiripan yang aneh juga terjadi di Mars.





Antartika adalah lingkungan yang dingin dan kering seperti Mars kata Bishop
Jadi kami mulai melihat analogi lain untuk mencoba memahami chemistry ini.

Bishop dan timnya memiliki pengalaman selama mempelajari Laut Mati di Israel dan Salar de Pajonales di Gurun Atacama.
Selain melakukan eksperimen di laboratorium, untuk mendapatkan wawasan lebih lanjut tentang apa yang mungkin terjadi di Mars dan  penyebab perubahan topografi planet (perubahan permukaan planet).

Melalui pengamatan mereka, tim menemukan kimia garam tertentu dapat berinteraksi dengan gipsum, atau air bawah tanah, menyebabkan gangguan di permukaan, termasuk runtuhnya tanah dan terjadi tanah longsor.

Garam klorin sangat halus, mereka menyerap banyak air seperti spons sehingga menjadi cairan, jelas Bishop.
Mirip dengan proses kita lihat di dapur sendiri.
Jika kita membiarkan botol garam terbuka, nanti akan menyerap air, dan menjadi lengket.

Demikian garam klorin dan sulfat yang ditemukan di air bawah tanah sedingin es di bawah permukaan Mars menciptakan lumpur tidak stabil seperti cairan yang menyebabkan gangguan di atas permukaan tanah.

Proses yang sama tersebut mungkin juga menjadi penyebab tanah longsor terjadi di Bumi jutaan tahun yang lalu.
Namun, Bumi mengalami proses berbeda.

Planet kita ditutupi oleh lautan serta tumbuhan yang menutupi permukaannya, sehingga kita tidak dapat mengamati tanda-tanda yang tertinggal dari proses awal pembentukan di planet Bumi.

Mengapa kita mempelajari Mars?
Saya pikir Mars benar-benar menarik karena itu semacam jendela untuk melihat asal kita di Bumi, kata Bishop.
Di planet kita, kehidupan lepas landas dan Bumi memiliki tumbuhan dan bakteri, manusia memiliki jalan raya, tetapi di Mars hanya dapat melihat bebatuan, planet ini tidak terkontaminasi oleh semua hal yang kita miliki di Bumi.
Sehingga peneliti dapat melihat sejarahnya langsung dari atas permukaan



Mars mungkin merupakan planet yang kering dan terpencil saat ini, tetapi para ilmuwan percaya, Mars mungkin memiliki awal yang sama dengan Bumi, dimulai sebagai dunia yang hangat dan basah. Namun, seiring waktu, planet ini kehilangan atmosfernya.

Evolusi planet akhirnya membeku dalam waktu, tapi bukan berarti Mars identik dengan Bumi tetapi mungkin ada banyak kemiripan, kata Bishop.

Peneliti Bishop menyarankan lebih banyak upaya untuk penelitian dengan pengeboran di permukaan tanah Mars.
Sejauh ini, kami hanya memiliki data dan melihat permukaannya saja kata Bishop.

Rover Mars NASA Insight telah mencoba menembus bebatuan, dengan mencoba melihat dibawah tanah planet Merah.
Tapi misi tersebut gagal setelah satu tahun di upayakan dan rover Insight tidak lagi melakukan percobaan.

Namun, misi ExoMars Badan Antariksa Eropa yang akan datang, yang dijadwalkan diluncurkan pada tahun 2022, diharapkan dapat menggali dua meter di bawah permukaan Mars.

Informasi disana, Bishop mengatakan ada harapan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang proses yang terjadi di bawah permukaan.
Upaya diatas secara bertahap dalam penelitian sebuah planet yang sangat dingin yaitu Mars. Butuh waktu lama dari para tim ilmuwan untuk mendapatkan setiap jawaban dengan apa yang terjadi di planet Merah tersebut.

Laporan cuaca di planet Mars, termasuk ada ribuan gempa di Mars terakhir mencapai 4SR. Misi Insight mungkin tidak lama lagi, panel surya tertutup debu hanya menghasilkan 25% power. Akhir tahun 2022 menjadi misi terakhir penelitian Mars dengan probe Insight.

Teori astronom untuk Goldilock, dimana sebuah planet memiliki suhu yang tepat untuk kehidupan. Asisten profesor Washington University, ada faktor penentu baru dengan  ukuran planet bukan hanya besar dan kecil, tapi berdampak mempertahankan magnetik planet, cairan, atmosfer yang ada sesuai bobot ukuran planet.



Helikopter Ingenuity berhasil terbang di planet Mars. Tonggak sejarah antariksa benda melayang di dunia lain. Planet berbeda, atmofer berbeda,gravitasi berbeda, aturan tentu berbeda. Kerapatan atmofer planet Mars hanya 1% dari Bumi, suhu dingin, dan partikel energi tinggi dapat menabrak masuk ke planet dan merusak instrumen.

Pesawat ruang angkasa membuktikan adanya jejak air di planet Mars. Penemuan pesawat Mars Express menemukan es di atas kawah Korolev. Mungkin di planet Mars dahulu memiliki atmofer cukup tebal. Dan planet lebih hangat dibanding saat ini.

Tahun 2004 Nasa mengirim robot Opportunity ke planet Mars, 15 tahun berlalu robot tersebut ada disana. Awalnya untuk misi selama 90 hari. Nasa mendapat kabar buruk, robot Opportunity sementara tidak bekerja masalah baterai. Setelah beberapa bulan tidak mengirim sinyal. Panel surya tertutup debu, membuat robot kehabisan power pada baterai. Kemungkinan tidak dapat bekerja lagi.

Gempa teknonik dipastikan ada lempeng bumi yang tengelam atau terangkat. Berapa tebal kulit bumi, dan seperti apa inti bumi. Bumi memiliki 3 lapisan dari kerak bumi yang dingin. Di inti bumi memiliki kemunginan memang besi 96 persen. Bila bumi seatu hari tidak ada gunung ap, apa yang terjadi

Nasa memberi tahap pergi ke Mars tidak semudah yang dibayangkan. Pertama astronot singgah di stasiun ruang angkasa baru. Semua masih rancangan, mantan astronot Nasa Chris mengatakan perjalanan ke Mars paling beresiko tanpa teknologi baru. Manusia hanya dapat tinggal di Mars dengan aman 2 tahun, maksimum 4 tahun.



Planet baru yang terlihat oleh tim ESO dapat diperkirkan seperti apa bentuk planet nantinya terbentuk. Awalnya masih sebatas teori, sekarang mulai dibuktikan bahwa planet baru akan menyapu debu dan gas dari sisa bintang dan membuat planet tumbuh menjadi besar.




No popular articles found.