Film The Minimalist Less is Now di jaman modern bikin ruwet


Stuff | 4 July 2021

Film The Minimalist menceritakan perubahan pada masyarakat modern.

Kita kembali ke era sebelum belanja online internet. Membeli komponen computer atau merakit, kita harus pergi dan memilih sendiri. Mengajak teman yang lebih ahli untuk memberikan pendapat.
Belanja akan melihat benda fisik di toko sampai mal, dapat keliling dan berjam jam mencari produk yang dicari.

Belanja sampai di awal tahun 2000an, bukan hal instan.
Komponen elektronik, di Jakarta ada di Harco. Fan, kapasitor, radio pemancar, sampai TV ada disana.
Sepatu, baju, dapat dicari di toko, sampai mal. Supermarket adalah tempat yang ramai, tidak ada mini market. Belanja adalah hal rutin untuk keluar rumah.
Belanja produk kadang nyaman kadang sejuk dengan udara AC, tapi di tempat lain anda harus berkeringat karena masuk ke lorong toko yang sempit penuh barang. Hanya mencari satu komponen atau satu produk.

Harga dan negosiasi adalah hal berbeda di jaman online, semua berubah, semua dibuat sangat mudah.
Sekarang kita tidak bisa menawar, dapat mendapat harga yang paling murah dengan mudah, disisi lain kita terjebak dengan produk palsu. Kadang terjebak dengan kata kata, seperti promo, diskon, harga paling murah.
Toko online tidak memiliki batas wilayah, dan belanja online akan melewati regional antar kota bahkan negara.

Semuanya menjadi instan, belanja tidak perlu lagi keluar dari pintu kamar. Lalu apa dampaknya bagi kita

Film The Minimalist ini menceritakan apa yang terjadi ketika semua sudah belanja online. Dan bagaimana penjual raksasa membombardir warga disana dengan penawaran yang terbaik.
Sampai kita lupa apa yang seharusnya kita butuhkan.
Film ini mengingatkan dari pengalaman warga di luar negeri, ketika mereka belanja tanpa terkendali.



Bila kita sering melihat siaran TV luar negeri seperti harian berita di Amerika. Maka kita dapat melihat bagaimana produk ditawarkan via TV.
Kita akan merasakan, unik juga produk yang ditawarkan disana.

Iklan disana tidak hanya di TV, tapi website atau toko online shop seperti Amazon atau Bestbuy dan perusahaan besar raksasa lainnya..
Dibelakang mereka adalah produsen, dan mengiklankan produk hampir di semua tempat.

Iklan Tv memang terbatas dan di era modern berubah, dari media TV, radio yang terbatas berpindah ke internet.
Karena sebagian besar manusia di bumi telah memegang ponsel pintar.

Produsen dengan mudah menuangkan informasi, perusahaan internet mengatur data agar tayangan produk tepat sasaran.
Teknologi merubah apa yang ditampilkan dilayar bagi kita menjadi lebih tepat, sangat efisien, bahkan mengingatkan kita.

Walau penawaran produk seperti iklan memudahkan memberi informasi, tapi berlebihan diterima akan menjadi racun yang menganggu dan memicu konsumsi berlebihan.
Produsen tidak salah menawarkan produk, dan toko online boleh memberikan harga promo yang murah dengan kemudahan.

Disini yang masalah, ketika kita sendiri tidak hanya mendapatkan satu produk, dan melihat produk lain.
Beberapa produk yang dijual ternyata tidak tulus, dan membujuk orang dengan cara apapun untuk memiliki, barang yang tidak seharusnya dibeli, barang yang tidak terlalu berguna, kadang hanya ilusi, dan dibeli dengan kartu kredit.

Apa yang dilakukan dengan iklan, tidak hanya tampil di layar.
Mengapa teknologi pengiklanan untuk penjualan barang begitu tepat sasaran.


Banyak data di perangkat mobile mencatat kemana saja seseorang pergi, apa yang harus ditawarkan ke mereka ketika memegang smartphone, tablet atau computer.
Mencatat apa yang menarik, apa yang baru saja dilihat, atau apa yang sedang dicari.
Teknologi Big Data sangat membantu produsen, penjual dan pembeli, agar semuanya tepat sasaran.

Bagi sebagian orang akan bijak melihat tayangan iklan. Sekedar mengetahui dan mencatat bila suatu hari perlu.
Tetapi ada yang dijual dan ada yang dibeli.
Dari sisi pembeli, dan membeli lagi dan lagi sampai lepas kendali.

Raksasa internet mencatat data, dan diambil oleh perusahaan iklan raksasa, lalu menawarkan ke klien mereka apa yang mereka ingin tawarkan.

Film The MInimalist

Disana penawaran dibuat seperti kebahagiaan, tentu saja menurut kita yang melihat.
Punya ini pasti senang, tinggal disana pasti nyaman, produk ini pasti membantu dan lainnya.
Masalah utama, produk yang kita lihat sebenarnya bukan prioritas.
Produk yang ditawarkan kadang hanya pemijit tangan, sepatu kuat, sendal ini enak atau panci ini lebih bagus untuk memasak.

Menjual produk adalah transaksi yang dilakukan di dunia modern. Jadi tidak ada salahnya, tentu produk yang dijual berguna bagi pembeli.
Informasi produk perlu ditampilkan bagi orang. Sehingga kita dapat melihat dan mempertimbangkan

Dampak bagi beberapa warga di Amerika, menjadi impulsif dan salah mengartikan kebutuhan belanja untuk kebahagiaan, menjadi harus "dimiliki".
Ketika seseorang akhirnya mampu dan ingin memiliki barang agar hatinya lebih senang.
Ternyata salah, ketika mereka tidak dapat menghentikan kebiasaan belanja, dan terus saja salah melihat produk yang seharusnya tidak diperlukan.
Berakhir dengan tagihan yang menumpuk dan harus dicicil.

Perubahan lain ketika masyarakat modern lebih lama bekerja dibanding jaman dulu.
Mereka bekerja sampai malam, macet dijalan, waktu libur semakin singkat dan berakhir di depan layar smartphone lebih lama.
Tentu saja yang dilihat ada di layar smartphone dan TV setiap hari.

Apa yang dicari, kebahagiaan ?, ketika semakin kaya, berlanjut dengan keinginan punya rumah besar, mobil besar, produk canggih yang mahal seperti tidak akan berakhir.
Karena otak manusia akan menormalkan kembali apa yang diterima.
Melihat TV 50 inci, hanya sementara, mungkin 2-3 bulan sudah terlihat biasa. Dan ingin membeli ukuran lebih besar lagi dan lebih canggih lagi ?
Sifat manusia yang tidak puas memicu belanja tidak terkontrol.

Sebenarnya masyarakat di luar sana sudah kehilangan komunitasnya sendiri. Mereka bekerja untuk uang, dan membeli kebahagiaan.
Bahkan tidak lagi mengenal tetangga mereka, saudara mereka. Seakan tidak peduli lagi dengan lingkungan, yang dilihat hanya perangkat elektronik di sekitar rumah.

Kehidupan dari pendapatan bulan ke bulan lain hanya untuk membeli barang, hiburan dan hal tidak penting.
Orang membeli barang menjadi membeli yang tidak perlu, dan meningkat lagi dengan membeli sesuatu dengan uang yang tidak dimiliki lagi.
Tujuannya hanya untuk memberi kesan kepada orang lain yang dia tidak disuka ?, kadang hanya bersaing memiliki produk.

Disebutkan ketika seorang ibu pertama kali memiliki bayi, yang dicari perangkat bayi.
Ketika ibu salah melihat kebutuhan, karena bayi memang awalnya sulit tidur.
Awalnya yang dibeli dari ranjang bayi, tapi berlanjut mainan bayi, monitoring bayi, tas punggung, dompet, tas susu dan lainnya.

Akhirnya semua barang menumpuk tidak berguna, di gudang masih tersisa peralatan kamping, alat dekorasi hari libur, peralatan musik, tumpukan sepatu, yang semua ada di kotak.
Barang barang yang ada di gudang tersebut menjadi diluar kendali. Mungkin kita sendiri tidak ingat apa yang pernah kita beli sebelumnya. Tapi masih ada di gudang.

fCerita film the minimalist




Produsen melakukan banyak inovasi, teknologi. Produk sampai digudang retail raksasa, mereka akan menawarkan dengan banyak kemudahan serta pengiriman di hari yang sama
Hal tersebut merubah kemudahan kita, dan menarik keinginan memiliki dengan cepat.
Belanja di toko retail raksasa Amerika sangat mudah, begitu di click barang sampai sore hari.
Mau membayar cash, cicilan, atau pinjam dari kredit card, semuanya instan.

Lihat orang kuno, ketika generasi sebelum jaman internet, mendapatkan sebagai dasar sudah cukup. Membelinya saja membutuhkan perjuangan
Karena kita melihat apa yang dimiliki orang lain di sekitar, paling jauh hanya keinginan untuk memiliki tingkat sosial yang sama, seperti tetangga saja.
Di sebelah memiliki Player Betamax, kita tentu ingin memiliki perangkat hiburan itu dirumah. Atau memiliki TV tabung berwarna 24, sudah cukup, tidak perlu membeli 2 atau 3 TV.

Generasi sekarang, orang melihat banyak produk, tetapi memperluasnya dengan melihat ke arah atas.
Karena informasi yang dilihat berbeda dibanding sebelum jaman internet.
Siapa saja bisa mengclick memilih barangnya sendiri seakan memiliki barang seperti si bintang.

Perbedaannya, sekarang kita ingin memiliki potongan rambut seperti Jennifer Aniston, membandingkan rumah seperti Kim Kardashian, memiliki kaos seperti pemain sepakbola. Itu sudah amat jauh keatas, bukan lagi melihat kebutuhan dari lingkungan disekitar tapi membandingkan diri kita dengan para bintang.
Yang jelas penawaran tersebut bukan untuk kantong kita, tapi mereka yang memiliki dana lebih dari cukup.

Pada akhirnya, kita harus sadar untuk memiliki sesuai kebutuhan saja.
Mulai membersihkan laci, lemari dan gudang dari barang yang tidak perlu yang dibeli sejak 10 tahun lalu di toko online.
Dan menyumbangkan kepada orang yang membutuhkan.

Film ini menceritakan kepada kita, agar hidup sederhana.
Minimalist artinya memiliki apa yang dibutuhkan, tidak berlebihan, dan tidak memiliki yang tidak perlu.

Beruntung di Indonesia belum mencapai tingkat seperti di negara barat tentunya. Tapi disana memang rumit, penawaran produk mengubah sugesti penguna internet untuk membeli.

Film The Minimalist tayang di Netflix


Berita terkait
Produksi sudah umum dilakukan di studio, ketika aktor tidak perlu pergi ke lokasi. Tahun 2022 mendatang, mungkin melihat kecanggihan film  Korea dengan teknologi layar Virtual. CJ adalah produsen film dan drama seri Korea CJ, TVN, OCN. Tidak perlu lagi green screen seperti teknologi sebelumnya

Hometown Cha-Cha-Cha seorang dokter pindah ke kota kecil, bertemu dengan pemuda penganguran yang sibuk. The Veil digarap layaknya film cinema aksi. The Great Shaman Ga Doo Shim kemampuan seorang anak yang mampu mengusir arwah jahat. Police University 2 polisi yang mencari bukti siapa yang melakukan kejahatan, dengan teknologi. Lost tayang perdana awal September 2021



Sebuah film BBC menceritakan apa yang luput dari perhatian kita selama 1 tahun pandemi. Menceritakan alam kembali ke kota besar di luar Indonesia. Bila menonton film ini, kita dapat menebak, jangan jangan kesempatan seperti ini tidak akan terulang sepanjang hidup.

Film Mosul diambil dari kisah nyata dibuat film oleh Netflix. Pasukan kecil paling ditakuti ISIS di Irak. Pasukan diluar garis komando angkatan darat yang dianggap hilang, karena pemimpinnya tetap mengikuti perintah di awal penugasan. Hanya prajurit yang ingin membalas diterima oleh Swat

Film Passenger menceritakan perjalanan pesawat ruang angkasa Avalon. Membawa 5000 orang untuk pindah ke planet baru Homestead 2. Perjalanan selama 120 tahun, bagaimana awak pesawat berumur panjang di dalam pesawat. Apakah peralatan semua baik. Bagaimana bila sistem pesawat gagal bekerja atau awak pesawat sakit.

Film Arrival menceritakan kedatangan alien ke Bumi. Tidak berkomunikasi dan benda seperti batu raksasa tersebut duduk tenang mengambang. Untuk apa benda itu datang. Ilmuan mulai mendatangi benda tersebut dan dipastikan datang dari luar angkasa, dan kita mencoba berkomunikasi dengan mereka. Arrival juga tiba di situs Torrent

Film The Martian bercerita dengan petualangan astronot yang berhasil mendarat di planet Mars. Tapi kondisi Mars yang ekstrim membuat para astronot harus kembali keluar dari planet. Seorang astronot tertinggal, karena hilang diterjang badai. Ternyata masih hidup, bagaimana cara penyelamatan astronot.



Sebagai seorang peneliti dia tertarik mempelajari perilaku manusia. Ketika orang pergi ke supermarket dengan perut lapar, maka dia akan berbelanja lebih banyak makanan. Pertanyaan kedua, bila perut lapar apakah akan mempengaruhi seseorang belanja hal lain lebih banyak juga. Dibuktikan ya karena hormon Ghrelin

Gangguan untuk berbelanjat meliputi 8,9 % penduduk Amerika, angkanya sekitar 25 juta orang dan 90% adalah wanita. Menurut Benson, kebiasaan belanja yang tidak terarah adalah kebiasaan yang tidak sehat. Bahkan menghabiskan uang yang tidak perlu dengan belanja yang tidak jelas.

Kota Bangkok sudah ramai oleh pendemo dalam 1 bulan terakhir. Siapa yang mau berbelanja, siapa yang ingin ke mall. Macet, tidak bisa masuk ke tengah kota. Toko online memiliki cara jitu memerangi masalah kebutuhan belanja di kota Bangkok.




No popular articles found.