Kesehatan udara dalam ruangan bikin kita melambat dari 2 studi


Green | 10 September 2021


Sebelum era WFH, pekerja di perusahaan masuk kantor seperti biasa.
Kadang di dalam ruangan akan banyak karyawan untuk memaksimalkan daya tampung pekerja.

Ternyata ada dampak negatif, terlebih sebuah ruang kantor yang tidak memadai.
Dampak polusi di dalam ruang kantor, tingkat gas CO2 akan menurunkan kinerja karyawan
Allen telah melakukan penelitian dan membuat 2 studi pada tahun 2015 sampai 2021

Buat ruangan lebih baik dengan sirkulasi udara bersih. Mungkin satu solusi agar seseorang dapat bekerja lebih baik.

2021
Penelitian dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menemukan korelasi antara kualitas udara di lingkungan kantor dan berdampak dengan fungsi kognitif pekerja.

Studi internasional menemukan tingkat ventilasi yang rendah dan peningkatan kadar partikel dikaitkan dengan penurunan kinerja pada tes kognitif.

Sebagian besar pekerjaan ini berfokus pada hubungan antara fungsi kognitif dan paparan luar ruangan jangka panjang terhadap partikel halus (PM2.5).

Efek akut dari polusi udara dalam ruangan pada fungsi kognitif adalah area yang sangat sulit dipelajari, dan studi yang baru diterbitkan ini mulai mengeksplorasi hubungan dengan perilaku karyawan.
Lebih dari 300 subjek direkrut untuk studi selama 1 tahun, mencakup di 6 negara dan lebih dari 40 gedung perkantoran.

Dalam test , setiap ruang kerja subjek dilengkapi dengan sensor lingkungan yang melacak tingkat PM2.5, CO2, suhu, dan kelembaban relatif secara real-time.



Ketika sensor mengukur tingkat PM2.5 dan CO2 di bawah atau di atas ambang batas tertentu, aplikasi smartphone akan melakukan ping kepada peserta dan menugaskan mereka dengan tes kognitif singkat.

Karena tingkat PM2.5 dan CO2 di lingkungan dalam ruangan meningkat, waktu respon pada kedua tes kognitif melambat.
Satu tes khusus, yang disebut tes kata warna Stroop, dirancang untuk mengukur kemampuan perhatian dan kontrol yang menghambat.
Pada tes itu, para peneliti mendeteksi penurunan akurasi akibat dampak meningkatnya PM2.5 dan CO2 di ruang kerja.

“Temuan menunjukkan bahwa peningkatan kadar PM2.5 dikaitkan dengan penurunan akut fungsi kognitif,” jelas penulis utama Jose Guillermo Cedeño Laurent.
“Ini pertama kalinya kami melihat efek jangka pendek ini di antara orang dewasa yang lebih muda. Studi ini juga mengkonfirmasi bagaimana tingkat ventilasi yang rendah berdampak negatif pada fungsi kognitif. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa kualitas udara dalam ruangan yang buruk mempengaruhi kesehatan dan produktivitas secara signifikan lebih dari yang kita pahami sebelumnya.

Joseph Allen, penulis senior studi baru ini, adalah direktur Harvard Healthy Building Program. Selama beberapa tahun melakukan studi dan berpusat pada kondisi lingkungan dalam ruangan mempengaruhi kesehatan umum seseorang.

Sekarang dengan pandemi global yang membawa perhatian pada masalah seperti ventilasi gedung, dia melihat minat besar pada perusahaan yang ingin meningkatkan lingkungan dalam ruangan.

Ventilasi tempat kerja yang buruk dapat memengaruhi lebih dari sekadar fungsi kognitif atau penularan COVID-19.
Minggu ini tim peneliti Inggris mempresentasikan data baru dari sebuah penelitian yang menunjukkan sejumlah pekerja di ruang kantor yang berventilasi buruk dapat menderita asma.

“Kami biasanya menganggap kantor sebagai lingkungan yang aman, jadi mungkin saja ketika asma didiagnosis pada pekerja kantor, penyebab diabaikan,” kata Christopher Huntley, pemimpin studi asma kerja baru.

"Saya pikir akan ada keseimbangan mendasar dalam hal ruang dalam ruangan," kata Allen baru-baru ini dalam sebuah wawancara dengan media Science.


Saya pikir orang tidak akan mentolerir bangunan yang sakit, di mana yang tinggal merasa lelah, mengalami mata gatal, sakit kepala, atau pekerja dijejalkan ke dalam kantor seperti lemari tanpa jendela. Era itu sudah berakhir.


Kesehatan udara di kantor bikin otak melambat

2015
Udara di kantor membuat pekerjaan anda lebih berat bahkan membahayakan kesehatan.
Kita menghabiskan waktu 90% berada di dalam ruangan. Dimana udara tercemar dengan bahan bangunan, produk pembersih dibanding udara di luar.

Walau banyak bangunan mengunakan pendekatan hijau yang ramah terhadap lingkungan agar pekerja mendapatkan suasana alami. Peneli mempertanyakan, apakah efek dari bahan bangunan dan kondisi kimia dapat berubah. Berita ini diterbikan di Environmental Health Reports pada awal November 2015.

Statistik perubahan karyawan dengan lingkungan

Kualitas udara yang buruk dari bangunan konvensional secara drastis dapat menurunkan kognitif, dan membatasi kemampuan karyawan.

Dalam studi dilakukan pengambilan sampel. 24 pekerja bekerja selama 6 hari di kantor dengan sistem lingkungan buatan. Setiap hari peneliti melakukan perubahan dengan tingkat gas karbon dioksida dan senyawa organik yang mudah menguap. Lalu bahan seperti itu dialirkan ke dalam ruangan seperti simulasi sebuah kantor.

Pekerja yang diteliti tidak mengetahui setiap perubahan yang terjadi di ruangan mereka. Peneliti hanya melakukan test setiap sore dan meneliti efek kognitif dan kemampuan mereka dalam pengaturan pekerjaan.

Peneliti sendiri kewalahan dengan hasil yang mereka dapat.  Ketika gas atau polusi tersebar di ruang kantor, kinerja kognitif karyawan turun sampai separuh. Tapi bila udara dibuat bersih maka kemampuan pekerja naik 2x dan kognitif naik sampai 61% lebih tinggi

Kualitas udara tampaknya memberikan dampak baik dan buruk. Studi tersebut hanya studi jangka pendek. Tidak meneliti lebih lanjut seperti pengaruh pekerja dalam waktu lama, efek bahan bangunan terhadap kesehatan. Tetapi para peneliti akan melanjutkan percobaan mereka dalam jangka panjang dan menguji kualitas udara di kantor secara nyata.

Lingkungan udara berdampak bagi kinerja karyawan di dalam kantor. Terlihat simulasi udara dari gedung hijau membuat pekerja lebih baik. Ingin lebih sehat, sebaiknya jauhi polusi dan mendapatkan udara lebih segar. Setidaknya untuk kesimpulan sementara.

Berita terkait
2 ahli mengatakan mengurangi mengunakan sabun setiap hari. Karena banyak yang hilang dari tubuh akibat sabun. Sabun adalah penemuan ajaib yang berfungsi mengikat kotoran dan lemak, tetapi dampak samping membuat kulit kering dan menghilangkan bagian penting pada tubuh.

Orang dewasa selama empat tahun yang semuanya menderita rasa sakit, pegal-pegal akibat radang sendi di lutut, pinggul, pergelangan kaki atau kaki mereka. Jadi siapapun yang ingin sehat, dan tetap normal sampai hari tua. Biasakan melakukan aktivitas berjalan 10  12 menit sehari saja.



Mengapa sebagian besar manusia mengalami masalah di ketinggian, seperti berada di ketinggian 3000 meter lebih. Jumlah darah di dalam tubuh ikut berkurang sementara tekanan darah di paru-paru meningkat. Penelitian ini sangat penting ini untuk memperdalam pemahaman kita tentang bagaimana tubuh manusia mampu menyesuaikan diri

Bila anda ingin mengukur kebugaran, cobalah menaiki 4 anak tangga kurang dari 1 menit. Lihat saja, apakah anda dapat menaiki 4 anak tangga dengan cepat dan kurang dari 1 menit tanpa harus berhenti. Teknik lain bagi orang dewasa untuk mengukur ke seimbangan.

Ketika manusia menjadi tua, mereka menjadi lebih mudah jatuh. Penyebabnya otot kaki menjadi ciut. Misteri ini terungkap, dan dapat dipertahankan dengan teknik alami. Dan koneksi cabang otot dapat terhubung ke saraf kembali.

Olahraga dan kesehatan, usia 80 tahun memiliki kekebalan tubuh usia 20 tahun. Mampu menghindari penyakit, seperti sebuah pil alami. Aktivitas fisik ternyata meningkatkan kemampuan sel T lebih aktif. Salah satu rahasia dari tubuh manusia




No popular articles found.