Rumah mahal di China mengalahkan cicilan penduduk negara lain


Kategori : News | Date : 2 July 2013
Tinggal di negara maju katanya bisa membuat orang makmur. Tapi kalau terjadi sesuatu dan tidak memiliki asuransi kesehatan. Biayanya bisa mahal sekali. Untuk memiliki rumah tinggal tidak murah, kecuali tinggal di daerah pinggiran. Sekarang China boleh dibilang makmur. Bahkan sudah masuk negara maju bersanding dengan negara Eropa dan Amerika. Tapi harga rumah di beberapa kota besar mulai mengila, bahkan lebih mahal dari rumah di kota besar negara maju. Tentunya menurut ukuran pendapatan penduduk masing masing negara.

Kota besar di China masuk daftar perumahan termahal di dunia berdasarkan pendapatan rata rata penduduk. Bahkan melebihi harga rumah di Tokyo, London dan New York dari data IMF. Bila mencicil rumah di sana, satu orang perlu mencicil selama 22,3 tahun seperti harga rumah di Beijing.



Kondisi properti di China sedang kacau, bulan lalu harga rumah naik lagi 7,4% dibanding harga tahun lalu. Singkatnya untuk meredam naiknya harga rumah di China tidak terjadi. Bila sebagian besar penduduk menaikan pendapatannya dari gaji mereka maka terjadi inflasi. Bila semua rumah dibeli kredit, nantinya terjadi kredit macet besar besaran. Merupakan bencana bagi bank yang memberikan kredit rumah.

Mungkin dampaknya seperti Amerika, ketika properti booming disana dan bank ikut menangani financial pembeli properti. Setelah itu terjadi krisis dan bank disana goyah. Cicilan pembayaran terhenti bahkan harud disita oleh bank. Dampaknya dari krisis di Amerika akan berimbas ke negara lainnya.

Berita terkait
Kota termahal di dunia tidak jauh, ada di Singapura. Survei dari Economist Intelligence Unit, Singapura sekarang mengalahkan Tokyo yang turun di 10 besar kota termahal. Tahun 2019 beberapa kota untuk tinggal sementara paling mahal. Bayangkan di Korea Selatan untuk secangkir kopi seharga $10.

Presiden China Xi Jinping mengatakan, tidak ada lagi arsitek yang aneh aneh. Sepertinya presiden Tiongkok sudah kesal melihat gaya properti disana. Pak Presiden mengatakan seni seharusnya bersinar seperti matahari. Katanya sangat dalam.



Booming ekonomi, pendapatan meningkat, memiliki rumah baru menjadi pilihan. Tapi itu cerita lalu, properti di Tiongkok tidak seindah masa jayanya. Harga terus merangkak naik, lalu apa yang terjadi. Apakah harus kembali turun atau tidak laku lagi.

Satu konstruksi jalan salah hitung, memotong separuh sebuah gedung bertingkat untuk rumah penduduk. Awalnya dari pembangunan jalan yang sibuk dengan 4 jalur dan diperlebar menjadi 8 jalur. Entah si kontruksinya memang mau mengusur atau salah perhitungan, mentok ke satu apartemen.

Bicara aplikasi di smartphone, ada yang berbayar dan gratis. Versi gratis diberikan penuh tapi ada juga yang terbatas. Pengembang software boleh menjual aplikasi mereka dari masing masing pasar. Apple mengijinkan pengembang menjual aplikasi sampai $999, sedangkan Google memberikan $200.

Di daerah pinggiran Taindecheng Hangzhou dikenal sebagai  Little Paris. Lengkap dengan pohon, kedai kopi, estalase toko dan lainnya. Bahkan memiliki menara Eiffel dengan ukuran sepertiga dari aslinya.




No popular articles found.